Bridgeout.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan industri otomotif tidak lagi memerlukan insentif untuk tahun depan. Namun, hal tersebut berbanding terbalik dengan fakta di lapangan.
Seperti diketahui, industri otomotif saat ini sedang lesu karena melemahnya daya beli masyarakat. Oleh sebab itu, dibutuhkan dorongan dari pemerintah agar pasar otomotif di Tanah Air kembali bersinar.
Marketing Director PT Toyota-Astra Motor (TAM) Jap Ernando Demily menyebut bahwa pengalaman masa lalu menunjukkan insentif mampu menjadi katalis penting bagi pemulihan pasar. Menurutnya, insentif seperti yang diberikan pemerintah pada masa pandemi Covid-19 bisa kembali diterapkan.
Sebab, Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dengan persyaratan tertentu pada 2021, kala itu penjualan mobil naik 66,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Ernando mengatakan kondisi saat ini sangat mirip dengan era pandemi sehingga dibutuhkan penetrasi.
“Secara historis, insentif fiskal menjadi salah satu kebijakan yang krusial dikeluarkan untuk menstimulasi pertumbuhan market,” kata Ernando seperti dikutip dalam keterangan resmi, Jumat, 26 Desember 2025.
Ernando menyampaikan intervensi yang tepat dapat memperkuat ekosistem industri dari hulu hingga hilir. Sehingga, ini akan mendongkrak industri otomotif Indonesia secara keseluruhan.
“Berkaca pada kondisi saat ini, market masih belum mengalami pertumbuhan positif sepanjang tahun. Rasanya intervensi stakeholder masih sangat dibutuhkan untuk mendorong produksi dalam negeri, dengan tujuan membangun industri otomotif secara komprehensif dari hulu ke hilir,” tuturnya.

Selain itu, Ernando meminta pemerintah mengevaluasi arah kebijakan insentif. Menurutnya, hal tersebut akan memberi dampak besar dan mengutamakan keberlanjutan industri.
“Kebijakan insentif terutama pada model elektrifikasi yang ada saat ini tentu perlu kita evaluasi bersama ya, terkait bagaimana dampaknya pada market secara keseluruhan. Lebih dari itu, kebijakan yang diluncurkan baiknya tidak hanya berdampak positif pada market tetapi juga industri otomotif secara keseluruhan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Marketing Director PT Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy. Ia melihat insentif sebagai salah satu faktor yang dapat membantu konsumen dalam mengambil keputusan pembelian, terutama ketika pasar sedang melemah.
“Honda melihat insentif sebagai salah satu faktor yang dapat mendorong permintaan dan mempermudah keputusan pembelian kendaraan. Namun pencapaian volume hingga 1 juta unit tetap perlu dikaji lebih lanjut karena dipengaruhi kondisi ekonomi dan daya beli,” ucapnya.
Menurutnya, pemerintah harus lebih bijak dalam menentukan kebijakan untuk industri otomotif. Sebab, saat ini terlihat hanya berpihak pada satu segmen yang menyasar pasar kelas menengah ke atas.
“Insentif pemerintah dapat membantu menjaga momentum industri saat pasar melemah. Ke depan, kami yakin pemerintah memiliki kebijakan dan pertimbangan tersendiri dalam menentukan arah dan bentuk insentif yang paling tepat bagi industri otomotif nasional,” kata Billy.

