Bridgeout.id – Era kendaraan listrik (EV) tidak lagi sekadar tentang memindahkan orang dari titik A ke titik B. Berkat inovasi pengisian daya dua arah atau bidirectional charging, mobil listrik kini bertransformasi menjadi “bank daya” raksasa berjalan.
Teknologi ini memungkinkan energi yang tersimpan di dalam baterai kendaraan dialirkan kembali untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari perangkat elektronik kecil hingga mendukung stabilitas jaringan listrik nasional.
Tiga istilah utama yang kini mendominasi percakapan adalah V2L, V2H, dan V2G.
Baca Juga: Hyundai Subscribe, Solusi Inovatif Langganan Mobil Listrik
Vehicle-to-Load (V2L)
Vehicle-to-Load (V2L) adalah fitur yang paling umum ditemui pada mobil listrik modern saat ini. Teknologi ini memungkinkan mobil berfungsi seperti genset portabel yang menyediakan daya listrik untuk perangkat eksternal.
Melalui soket khusus atau adaptor, pemilik EV dapat menyalakan peralatan seperti pembuat kopi, laptop, hingga peralatan pertukangan saat berkemah atau dalam kondisi darurat.
V2L sangat populer karena kepraktisannya yang tidak memerlukan infrastruktur tambahan di rumah, cukup mencolokkan perangkat langsung ke kendaraan.
Vehicle-to-Home (V2H)
Melangkah lebih jauh, terdapat Vehicle-to-Home (V2H) yang memiliki kapasitas lebih besar. Sesuai namanya, V2H memungkinkan baterai mobil listrik memasok daya ke seluruh instalasi listrik di rumah.
Dalam skenario pemadaman listrik total, sebuah mobil listrik dengan baterai penuh (misalnya 75 kWh) diklaim mampu menghidupi kebutuhan energi rumah tangga standar selama dua hingga tiga hari.
Ini memberikan ketahanan energi mandiri bagi pemilik rumah tanpa harus bergantung sepenuhnya pada sistem penyimpanan baterai dinding yang mahal.
Vehicle-to-Grid (V2G)
Sementara itu, Vehicle-to-Grid (V2G) dianggap sebagai puncak dari integrasi energi masa depan. Teknologi ini memungkinkan mobil listrik untuk berinteraksi langsung dengan jaringan listrik PLN atau penyedia energi nasional.
Dalam sistem V2G, mobil tidak hanya mengambil listrik dari jaringan, tetapi juga dapat menjual kembali kelebihan dayanya ke jaringan saat beban puncak (peak demand).
Hal ini tidak hanya membantu menstabilkan frekuensi listrik negara tetapi juga memberikan peluang pendapatan pasif bagi pemilik kendaraan melalui kredit energi.
Skala dan Infrastruktur
Perbedaan utama di antara ketiganya terletak pada skala dan infrastruktur yang dibutuhkan. V2L hanya membutuhkan adaptor sederhana. Sedangkan V2H dan V2G memerlukan charger dua arah khusus serta sistem manajemen energi cerdas untuk mengatur arus listrik agar tidak merusak baterai atau instalasi rumah.
V2G bahkan memerlukan perjanjian regulasi dengan penyedia layanan listrik karena melibatkan ekspor energi kembali ke jaringan publik yang memiliki protokol keamanan ketat.
Dari sisi ekonomi, ketiga teknologi ini menawarkan efisiensi yang signifikan. Pemilik kendaraan dapat mengisi daya mobil mereka di malam hari saat tarif listrik lebih murah (off-peak). Kemudian menggunakan energi tersebut melalui V2H di sore hari saat tarif mencapai puncaknya.
Dengan strategi ini, biaya tagihan listrik bulanan dapat ditekan secara drastis. Selain itu, penggunaan energi terbarukan seperti panel surya menjadi lebih optimal karena mobil listrik dapat menyimpan kelebihan energi surya di siang hari untuk digunakan di malam hari.
Degradasi Baterai
Meskipun terdengar sangat menjanjikan, tantangan utama yang dihadapi adalah standarisasi dan kekhawatiran akan degradasi baterai. Banyak calon konsumen khawatir bahwa siklus pengisian dan pengosongan yang lebih sering akan memperpendek umur baterai.
Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa dengan manajemen perangkat lunak yang cerdas, dampak degradasi dapat diminimalisir.
Pabrikan otomotif pun kini berlomba-lomba memberikan garansi jangka panjang untuk meyakinkan konsumen akan ketangguhan sistem baterai mereka.
Ke depan, integrasi V2L, V2H, dan V2G akan menjadi standar baru dalam ekosistem smart city. Mobil listrik tidak lagi dipandang sebagai beban bagi jaringan listrik, melainkan sebagai aset berharga yang membantu dekarbonisasi dan transisi menuju energi bersih.
Adapun dengan semakin banyaknya model mobil yang mendukung fitur ini di tahun 2026, rumah tangga di seluruh dunia selangkah lebih dekat menuju kemandirian energi yang lebih berkelanjutan dan efisien.

